Minggu, 28 Desember 2014

Tadi 26 Desember 2014 adalah malam hari yang unik bagiku. Dia yang pernah kutemui ternyata dipertemukan lagi. denganku. Epicentrum XXI Kuningan. 19;00 WIB
premier #‎AssalamualaikumBeijing‬ the movie.Film yang di adaptasi dari sebuah Novel Fenomenal karya bunda +Asma Nadia




Seperti biasa, setiap kali aku memasuki tempat atau daerah yang belum pernah sekalipun aku kunjungi, yang masih cukup asing bagiku, aku pasti akan merasa aneh, canggung, plus bingung, entah disebut apa fobia yang satu ini.. Tapi kenyataanya, aku memang  bertemu dengan begitu banyak orang, tentunya orang-orang yang masih asing bagiku. Aku seperti terlempar ke dunia antah berantah, atau akulah yang berasal dari dunia antah berantah itu.

Aku seperti menemukan cosmopolitannya Jakarta. ini seperti bukan di Inonesia lagi, aku seperti terlempar jauh ke gedung yang berkonstruksi sangat cosmopolitan. Ragu, gugup, takjub. Tempat ini keren tapi sekaligus membuat aku merasa asing. Dan akhirnya aku masuk kedalam bioskop setelah menanda-tangani absen di buku tamu. Film sudah dimulai, telat semenit aku pasti ketinggalan satu adegan.

Aku mencari tempat duduk yang sesuai nomor urutan di tiket masuk yang aku genggam, Semua terisi penuh, orang-orang yang kutanyai pasti menjawab "maaf, kursi ini sudah ada yang tempati", Tradisi di dalam bioskop. Dan salah satu orang yang kutanyai tadi ternyata seorang aktor, tapi lupa namanya. Kami sempat salaman, padahal.

Akhirnya aku menemukan tempat yang aku banget, di tengah. Duduk di tengah itu membuatku nyaman. Aku merasa seimbang. Dan aku selamat, aman. Ternyata mataku sudah semakin parah, buktinya teks dilayar di depan mata itu tidak bisa kubaca lagi.. Durasi membawa aku kepengahayatan atas kisah dalam film itu. Lucu dan takjub. ternyata baru aku sadari keunikan dari menonton film yang masih ditayangkan secara premier. Seru. di banding nonton setelah booming atau nunggu sampai di tanyangin di Tv atau di Upload di Youtube. Tapi ketika aku tiba disatu adegan saat dia, hadir nyata di depan mataku, aku makin takjub, inilah teman baruku, dia berperan sebagai Sunny, ternyata.

"ollyne.." Aku menyebut namanya dengan bangga.

Tapi ketahuilah kawan, ada magnet disebelahku, magnet itu besar dan mempunyai pendengaran yang tajam.

"siapa tadi cewek putih itu, yang tadi namanya kamu sebut?" tanya sang magnet.

"ollyne, namanya ollyne." jawabku.

"ollyne? ini dia disamping saya.." sang magnet itu membuat kejutan disekujur tubuhku.

Kenapa? Wah! Aku seperti kesetrum. Aku melayang.

"astaga, ollyne?!" aku masih terkejut. "apa kabar? aku Etzart, lupa ya, yang dimatraman, gramed matraman kemarin.." Aku berusaha meyakinkannya.

"ii..iya.."jawabnya ragu sambil menggali ingatannya. "iya ingat.."

"selamat ya..semoga Film kalian makin sukses.."

Dan kami kembali terjun dalam penghayatan.



"anaknya ya.. om?" tanyaku pada sang magnet. Dalam satu kesempatan.

"iya.."jawabnya. lalu aku menoleh kearahnya, dia sibuk dalam penghayannya. dan seperti menangis.


Ya, ternyata kami dipertemukan kembali, dan aku hanya berjarak satu sekatan kursi dari dirinya, dan sang magnet yang membuatku tertarik, melekat, dan melayang itu ternyata ayahnya. Sungguh tak pernah kuduga, mungkin Allah sudah mengaturnya.

Sedetik. Sepuluh menit, Setengah jam, aku sampai di adegan yang membuat air mataku jatuh, meski jujur aku berusaha tersenyum, tersenyum karena malu.. kok cowok menangis gara-gara film? ahk, aku menarik nafas panjang. Kemudian melepasnya perlahan. Entah mengapa? kisa ini memang membuatku terharu, mengharu biru. atau mungkin karena sering begadang, aku jadi gampang mengeluarkan air mata? begadang itu bisa bikin cengeng ternyata, atau bahkan jadi pemarah, atau whatever-lah. kalian coba saja sendiri. begadang selama lima bulan berturut-turut.Aku akui, aku seperti tidak sehat, tapi demi project Novelku, aku rela berteman dengan malam. Memproduksi Imajinasi.

Adegan berikutnya, saat sang Chun-Chun(Morgan Oey) mengucap 2 kalimat syahdat, jujur air mata ini gak munafik seperti senyumku, dia mengalir lepas meski aku berusaha baik-baik saja. Bahkan sampai di adegan terakhir saat Ashima (Revalina S Temat ) a.k.a Asmara dinikahi si Chun-Chun.. aku benar-benar terharu.

Film selesai, kami lanjut ngobrol, bahkan foto bareng..

"lu penulis lagu juga?" tanyanya.

"iya, tapi gak sampe rekaman kayak lu.." jawabku "sukses ya film buat kalian, salut deh..hebat! oya.. gua udah kirim naskah novel gua ‪#‎BungadiTepiJurang kemarin, tapi ke penerbit indie hehhe.."

"self publshing..mantap..mantap..sukses ya.." ucapnya, mata sipitnya seperti bercahaya, tulus, cuek, cepat dan aku terpesona.

Kemudian kami keluar bersama..bersama ayahnya juga..aku dan ayahya cukup akrab..kala itu, bahkan...

"itu siapa yang jadi dewa, yang punya anak tadi..?" tanya sang magnet.

"o,..itu kak Ibnu Jamil namanya.." kataku.

"kalo anaknya haji Rhoma Irama itu, siapa.. lagi ?"

"o..Ridho Rhoma.."

"kamu udah punya pin BBnya ollyne?"

"belum.."

"kalo gitu, kamu fotoin ya saya sama Ibnu Jamil sama Ridho juga,,nanti kamu saya kasi pin BBnya.."

Dalam hati aku berkata, "om, aku tidak mau kalo bukan dia yang kasi sendiri!"

Kemudian aku membisik ke telinga kak Ibnu Jamil. Bahwa ayahnya Olyne mau berfoto bareng. Jawabya iya, tapi sebentar karena ini masih wawancara. Selesai dari situ, semua batal. Aku sibuk motret sana-sini, atau berfoto sama bunda Asma Nadia, Sang Penulis yang membuat air mataku takluk didalam salah satu kisahnya, sepuluh menit yang lalu.

Aku kembali sibuk melihat keramaian itu, ada para wartawan, dan para pemeran film yang tadi kutonton. Beberapa pemeran lainnya, Laudya Sintya Bella, Cinthia Ramlan. Dan semua terasa asing, rame, tapi aku harus terbiasa. Ollyne dan aku terpisah tanpa ada kata pamit. Tidak seperti saat kami bertemu tuk pertama kali di Gramedia Matraman. Lalu aku pulang dengan membawa goody bag di tangan kiriku. Saat di busway, aku baru sadar isinya bersifat feminin, alias punya cewek. Dari maskara, entah apa namanya, kalender bergambar cewek, dan lain-lain. Dan aku menentengnya dengan 'pede' sepajang jalan, tadi.

Kesialan menghampiri, saat di halte dimana aku harus turun, tapi aku telat semenit sampai akhirnya harus turun di halte berikutnya, yang nyatanya tidak bisa dan bukan tempat arah balik ke halte yang tadi, artinya aku harus naik satu halte lagi, dihalte yang dimaksud, nunggu lama. Dan aku putuskan keluarkan jurus terakhir, bertanya. Yang ditanya menjawab "udah tutup!"

Akhirnya aku putuskan kaluar halte dan menunggu angkot, menunggu, menunggu, busway yang tadi kutunggui lewat. Dalam hati aku memaki orag tadi. Anjing Tanah! angkot datang akupun bisa pulang kerumah. Tidak apa-apa sial sedikit, menurutku, kisahku malam tadi adalah cerita atau pengaamanku yang sangat unik. Dipertemukan dengan treman baikku. Ollyne Apple, yang awalnya namanya kusangka Oshin saat pertama kenalan.

kelak kisah ini akan menjadi bagian dari halaman di novel #‎SANGPERANTAU‬ ku.

oya, Temans..jangan lupa nonton ya .. film #Assalamualaikum
30 desember 2014 ini, saksikan akting teman baik aku: Sunny/OllyneApple.
dan,  mau tau tanggapan aku tentang film #assalamulaikumBeijing ini? ini dia..

ROMANTIS, PUITIS, AGAMAIS, ETIS DAN PASTINYA BISA BIKIN KAMU NANGIS! 
SO DON'T MISS IT!  GUY'S



Sabtu, 06 Desember 2014




                                                        DANGDUTIN HATI AKU


Kamu nomer satuku..
Yang selalu ada dihatiku..
Kamulah laguku
Seperti musik dangdut yang ceria..
           
                                Dandutin hati aku dong sayang..
                                Buat aku bergoyang  dalam irama cintamu..

Dangdutin hati aku dong sayang
Buat aku melayang sampai kealam mimpi..

                                                Kamu seperti udara yang kuhirup
                                                Seperti irama dangdut yang syahdu

Dangdutin hati aku dong sayang..
Buat aku terbang bersamamu
Dangdutin hati aku dong sayang..
Jangan biarkan aku terkurung dalam rindu.



SONG BY: etzart sastra alzarkasih
special for : VIOLA

Rabu, 08 Oktober 2014

Selasa, 07 Oktober 2014




BATU-BATU UNIK DI BELAHAN DUNIA YANG PERNAH ADA !








BATU-BATU UNIK DI BELAHAN DUNIA YANG PERNAH ADA !

Dahulu kala, di sada huta terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni.


Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.

Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.

“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni.

Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong.

Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.

“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.

Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.

“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.

Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat.

“Parapat[2]… ! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..

Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan.

Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.

“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.

“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.

“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.

“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.

“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.

“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.

“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah.

Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.

Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”

“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.

“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.

“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.

“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.

Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.

“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.

“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.

Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.

“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”

“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.

Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutastampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.

“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.

“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.

“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.

“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.

“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.







Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.

Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batucadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.

Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”

Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”. Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
SERIGALA DALAM DIRI
SETIAP  MANUSIA  MEMILIKI
SERIGALA  DALAM  DIRI

SEPERTI  LAJU  LANGKAH  KAKI
SEPERTI  AMARAH  DIHATI
KITA  MEMILIKI  EMOSI..


REFF:
LEPASKAN
HEMPASKAN
SEGALA  AMARAH
REDAMKAN
SEGALA 
SERIGALA  DI  JIWA


SETIAP  MANUSIA  MEMILIKI
SERIGALA  DALAM  DIRI
SEPERTI  JABATAN  TANGAN
MENUJU  KEDAMAIAN
Synopsis
Novel ini terinspirasi dari kisah nyata, kisah nyata tentang adanya kota ghaib yang bernama “WENTIRA” di provinsi Sulawesi Tengah, khususnya kota Palu. Berawal dari sebuah penelitian oleh ke-empat orang mahasiswa yang melakukan penelitian tentang keadaan tanah dan air yang sudah tercemar disebuah penambangan emas yang bernama Poboya. Dan dalam penelitian itu mereka menemukan sebuah buku atau kitab yang sudah usang.
Takdir, saat mereka melakukan pendakian di gunung Gawalise, salah satu dari mereka membawa/ikut serta kitab tua itu. Maka di pendakian itulah hal-hal ghaib menghampiri mereka.
Apakah yang akan terjadi? Mampukah sang ayah menunggu anaknya yang hilang selama sepuluh tahun seratus hari? Dan dapatkah cinta antara anak manusia dan sang putri dari bangsa jin bisa bersatu?
Atau mampukah sang tokoh utama “RADITYA” meraih gelar dan lulus CUM LAUDE di sebuah universitas di kota Freiberg, Jerman? Novel ini khusus Anda yang berdaya imajinasi tinggi!

Synopsis
Novel ini terinspirasi dari kisah nyata, kisah nyata tentang adanya kota ghaib yang bernama “WENTIRA” di provinsi Sulawesi Tengah, khususnya kota Palu. Berawal dari sebuah penelitian oleh ke-empat orang mahasiswa yang melakukan penelitian tentang keadaan tanah dan air yang sudah tercemar disebuah penambangan emas yang bernama Poboya. Dan dalam penelitian itu mereka menemukan sebuah buku atau kitab yang sudah usang.
Takdir, saat mereka melakukan pendakian di gunung Gawalise, salah satu dari mereka membawa/ikut serta kitab tua itu. Maka di pendakian itulah hal-hal ghaib menghampiri mereka.
Apakah yang akan terjadi? Mampukah sang ayah menunggu anaknya yang hilang selama sepuluh tahun seratus hari? Dan dapatkah cinta antara anak manusia dan sang putri dari bangsa jin bisa bersatu?
Atau mampukah sang tokoh utama “RADITYA” meraih gelar dan lulus CUM LAUDE di sebuah universitas di kota Freiberg, Jerman? Novel ini khusus Anda yang berdaya imajinasi tinggi!

Synopsis
Novel ini terinspirasi dari kisah nyata, kisah nyata tentang adanya kota ghaib yang bernama “WENTIRA” di provinsi Sulawesi Tengah, khususnya kota Palu. Berawal dari sebuah penelitian oleh ke-empat orang mahasiswa yang melakukan penelitian tentang keadaan tanah dan air yang sudah tercemar disebuah penambangan emas yang bernama Poboya. Dan dalam penelitian itu mereka menemukan sebuah buku atau kitab yang sudah usang.
Takdir, saat mereka melakukan pendakian di gunung Gawalise, salah satu dari mereka membawa/ikut serta kitab tua itu. Maka di pendakian itulah hal-hal ghaib menghampiri mereka.
Apakah yang akan terjadi? Mampukah sang ayah menunggu anaknya yang hilang selama sepuluh tahun seratus hari? Dan dapatkah cinta antara anak manusia dan sang putri dari bangsa jin bisa bersatu?
Atau mampukah sang tokoh utama “RADITYA” meraih gelar dan lulus CUM LAUDE di sebuah universitas di kota Freiberg, Jerman? Novel ini khusus Anda yang berdaya imajinasi tinggi!